HEADLINE

Beban Ganda Petani NTB, Dari Korupsi Benih Jagung Hingga Anomali Serapan Pasar

Korupsi Benih Jagung

Bagi seorang petani di Nusa Tenggara Barat (NTB), menanam benih di ladang bukan sekadar urusan agrikultur, melainkan pertaruhan ekonomi keluarga. Sayangnya, di tengah upaya keras memeras keringat di bawah terik matahari, nasib mereka kerap diombang-ambingkan oleh ekosistem tata niaga yang cacat oleh ulah segelintir koruptor.

Petani NTB tengah memikul beban ganda (negative externalities) yang sangat destruktif. Beban pertama muncul dari hulu, jauh sebelum benih disemai. Skandal mega-korupsi Pengadaan Benih Jagung Jilid II oleh oknum di Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, yang merugikan negara hingga Rp 27,35 miliar, menjadi bukti nyata. Pengadaan benih dengan kualitas di bawah spesifikasi teknis (tidak bertumbuh dengan baik) yang dikolaborasikan dengan manipulasi harga, secara langsung membunuh produktivitas petani sejak hari pertama.

Beban kedua menanti di sektor hilir. Ketika petani bersusah payah berhasil memanen padi mereka, daya serap pasar riil justru ditekan oleh ulah para mafia pangan. Berdasarkan dokumen kajian AP3DA-NTB, peredaran beras oplosan (SPHP yang dicampur menir berkualitas rendah) yang dilabeli “kualitas medium” secara artifisial telah membanjiri pasar.

Mafia pangan ini mensubstitusi kebutuhan beras masyarakat dengan komoditas rusak. Akibatnya, permintaan terhadap gabah asli petani lokal menurun, mendistorsi harga pasar, dan menghancurkan posisi tawar (bargaining power) petani.

“Praktik eksploitatif ini berpotensi membuat fungsi institusional sebagai penjaga ekuilibrium harga menjadi tumpul,” ungkap analisis tersebut.

Lalu, siapa yang akan berdiri membela para pahlawan pangan ini? Di sinilah kehadiran Perum BULOG menjadi sangat krusial. Memasuki usia pengabdiannya yang ke-59, Bulog terus membuktikan diri sebagai pelindung sejati para petani.

Meski dihadapkan pada keterbatasan kapasitas gudang, Bulog NTB menyerap lebih dari 52.672 ton jagung demi menyelamatkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) saat offtaker swasta angkat tangan. Bulog juga menjalankan program Movenas, memindahkan surplus panen NTB ke Bali dan NTT, agar harga di tingkat petani lokal tidak anjlok.

Skandal benih dan oplosan beras memang mengoyak sistem kita, namun keteguhan Bulog dalam menyerap hasil panen adalah benteng terakhir yang menjaga petani dari jurang kemiskinan. “Mengawal Pangan Menjaga Masa Depan” bermakna bahwa negara harus hadir dari proses hulu hingga hilir. Dengan penindakan hukum yang keras terhadap koruptor benih dan mafia oplosan, serta penguatan infrastruktur serapan Bulog, kita sedang mengembalikan senyum dan harga diri para petani NTB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *